Semarak Kirab Adipura Menuju Kabupaten Kota Bersih, Jadi Kado Manis di HUT Pemkab Gresik

Pemerintah Kabupaten Gresik menggelar Kirab Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Sertifikat Menuju Kabupaten/Kota Bersih 2025 dengan meriah, Jumat (27/2/2026).
Pemerintah Kabupaten Gresik menggelar Kirab Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Sertifikat Menuju Kabupaten/Kota Bersih 2025 dengan meriah, Jumat (27/2/2026).

Gresik – Pemerintah Kabupaten Gresik menggelar Kirab Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Sertifikat Menuju Kabupaten Kota Bersih 2025 dengan meriah, Jumat (27/2/2026).

Kirab Adipura dimulai dari kawasan Gejos hingga Wahana Ekspresi Pusponegoro (WEP), menjadi simbol rasa syukur sekaligus kado manis dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 Pemkab Gresik dan Hari Jadi ke-539 Kabupaten Gresik.

Penghargaan tersebut diarak menggunakan becak listrik hadiah dari Presiden Prabowo yang dihias pernak-pernik warna-warni.

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut di hari ulang tahun Pemkab Gresik ke-52 dan Hari Jadi Kabupaten Gresik ke-539 tahun.

“Alhamdulillah, kita mendapatkan Sertifikat Penghargaan Kinerja Pengelolaan Sampah Menuju Kabupaten/Kota Bersih 2025. Ini bukan hanya prestasi pemerintah, tetapi seluruh masyarakat Gresik, khususnya Pasukan Kuning dan Pasukan Hijau,” ungkapnya.

Dalam kegiatan kirab tersebut, Pemkab Gresik juga menggelar pembagian sembako kepada Pasukan Kuning sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka menjaga kebersihan kota.

Gus Yani menambahkan, persoalan sampah bukan sekadar soal membuang atau membersihkan.

“Ini soal mindset. Sampah harus diubah menjadi sumber daya. Kita sudah mulai mengelola sampah menjadi RDF sebagai energi terbarukan pengganti batu bara, berkolaborasi dengan Semen Indonesia. Ini sejalan dengan program Presiden dalam pengelolaan sampah nasional,” jelasnya.

Ia menegaskan, penghargaan ini bukan tujuan akhir. Tahun depan, Gresik bisa meraih Adipura atau tidak, tergantung konsistensi seluruh masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“TPA sudah memiliki format pengelolaan yang baik, tapi yang terpenting adalah membiasakan pengelolaan sampah dari lingkungan terkecil, seperti rumah dan sekolah. Anak-anak harus diajarkan memilah sampah sejak dini,” imbuhnya.

Gus Yani mencontohkan Desa Randuboto yang dinilai berhasil mengelola sampah berbasis rumah tangga. Setiap rumah memiliki biopori untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.

Kebijakan ini bahkan diperkuat dengan regulasi sosial, dimana kepatuhan pengelolaan sampah menjadi salah satu syarat pencairan bantuan sosial.

Selain itu, Kelurahan Sukorame berhasil meraih penghargaan Proklim terbaik, menjadi inspirasi wilayah lain.

“Sebagai bentuk dukungan dan semangat, kami memberikan hadiah masing-masing satu unit mobil tosa untuk Randuboto dan Sukorame guna mendukung operasional pengelolaan sampah,” tuturnya.

Tak hanya itu, pondok pesantren Ihya Ulumuddin juga mendapatkan bantuan mobil tosa untuk mengelola sampah santri yang jumlahnya mencapai ribuan setiap hari.

Pemkab Gresik juga mendorong dunia industri agar ikut berperan aktif melalui skema deposit refund system dan pemanfaatan CSR perusahaan untuk pengadaan mesin pengolah sampah.

Edukasi kepada karyawan hingga sistem insentif e-money bagi warga yang membuang sampah pada tempatnya menjadi bagian dari inovasi yang perlu dikembangkan.

“Pengelolaan sampah bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. Mari kita jadikan Gresik bersih sebagai budaya bersama,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *