Gresik – Sore hari di Desa Klotok, Kecamatan Balongpanggang, selalu diwarnai riuh rendah suara anak-anak dan pemuda yang berlarian di atas rumput hijau. Bola digiring, sorakan pecah, dan tawa renyah terdengar dari lapangan sepak bola Putra Ipora kebanggaan warga setempat.
Lapangan yang dulunya bernama Gelora Ipora itu kini menjadi ikon desa. Bukan sekadar tempat olahraga, melainkan juga ruang pertemuan sosial bagi warga dari berbagai usia. Anak-anak kecil hingga remaja bergantian menjejakkan kaki di atas tanah yang sudah puluhan tahun dijaga dan dirawat oleh para pemuda desa.
Kepala Desa Klotok, Suheri, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya.
“Sebagai Kades, kami merasa bangga punya lapangan sepak bola yang cukup representatif. Tidak pernah sepi. Setiap sore digunakan main bola oleh anak-anak remaja, apalagi waktu ada liburan,” tuturnya, Kamis (28/8/2025).
Suheri bercerita, lapangan ini sejatinya adalah warisan generasi terdahulu. Para pemuda zaman dulu membangun dan menjaganya, lalu diwariskan hingga kini. Sejalan waktu, namanya berubah menjadi Putra Ipora, simbol bahwa semangat olahraga dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat.
Tak hanya jadi tempat latihan sehari-hari, Putra Ipora juga sering dipakai untuk pertandingan antar desa. Letaknya yang strategis, dekat jalan raya dan mudah dijangkau, membuat lapangan ini selalu ramai dan tak pernah kehilangan pesonanya.
Hal senada diungkapkan Cipto, warga yang sejak kecil sudah akrab dengan lapangan ini.
“Saya belum lahir lapangan sepak bola itu sudah ada. Sampai sekarang masih dijaga anak-anak muda. Kalau sore hari apalagi hari libur, pasti ramai sekali,” katanya sambil tersenyum.
Bagi warga Desa Klotok, lapangan Putra Ipora bukan hanya soal sepak bola. Ia adalah simbol kebersamaan, warisan yang dijaga lintas generasi, sekaligus ruang bermain dan berprestasi bagi anak-anak muda desa.






