Gresik – Petro Agrifood Expo 2026 bertajuk “Heritage of Agriculture” resmi dibuka di Gresik, Jumat (24/7/2026). Pameran yang menghadirkan 59 tenant dari sektor pertanian, UMKM, produk pascapanen, hingga sarana dan teknologi pertanian itu menjadi ajang memperkenalkan ekosistem pertanian modern sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang tertarik menjadi pengusaha tani.
Direktur Pupuk Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian RI, Syamsuddin, mengingatkan bahwa regenerasi petani menjadi salah satu tantangan terbesar pembangunan pertanian nasional.
Menurutnya, generasi muda baru akan tertarik masuk ke sektor pertanian apabila melihat profesi petani sebagai usaha yang menguntungkan.
“Kita tidak boleh lagi melihat petani dengan bahasa petani masa lalu. Petani itu harus menjadi pengusaha tani,” ujarnya.
Ia menjelaskan, modernisasi melalui penggunaan traktor, combine harvester, alat tanam modern, hingga teknologi pengendalian hama membuat proses budidaya menjadi lebih efisien dan produktif.
Syamsuddin juga mengungkapkan data yang menunjukkan perlunya percepatan regenerasi petani. Dari lebih dari 29 juta petani atau pengusaha tani perorangan di Indonesia, sekitar 67 persen berusia di atas 45 tahun.
“Ini warning. Kalau pemerintah tidak menyiapkan regenerasi petani dengan baik, nanti petani kita tinggal yang umur-umur tua,” katanya.
Karena itu, ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk terus membangun sektor pertanian yang modern, berbasis teknologi, dan memiliki nilai ekonomi tinggi agar mampu menarik minat generasi muda.
Petro Agrifood Expo 2026 menjadi salah satu upaya memperkenalkan wajah baru pertanian Indonesia. Melalui pameran ini, masyarakat tidak hanya disuguhi hasil pertanian, tetapi juga melihat bagaimana teknologi, UMKM, industri pengolahan, serta inovasi menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Sementara itu Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan, sektor pertanian saat ini menawarkan peluang usaha yang jauh lebih luas dibanding sekadar aktivitas bercocok tanam. Menurutnya, dukungan pemerintah melalui kemudahan akses pupuk bersubsidi, kepastian pasar melalui offtaker, hingga pemanfaatan teknologi membuat sektor pertanian semakin prospektif.
“Sekarang negara lebih terlihat keberpihakannya terhadap para petani kita, khususnya pengusaha tani. Pupuk semakin mudah didapatkan, harganya semakin terjangkau, kemudian offtaker-nya semakin jelas,” ujar Bupati Yani.
Ia mengatakan, kondisi tersebut harus dimanfaatkan oleh generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor usaha yang menjanjikan, terutama dengan berkembangnya teknologi pertanian modern.
“Anak muda kita harus melihat sektor pertanian menjadi sektor yang untung. Ketika SDM-nya bertransformasi dari konvensional menjadi pertanian berbasis teknologi, maka ini akan semakin menarik,” katanya.
Bupati Yani mencontohkan potensi pengembangan komoditas jeruk di Desa Kebonagung, Kecamatan Ujungpangkah. Kawasan dengan sekitar 400 hektare lahan jeruk tersebut mulai berkembang tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, pertanian kini telah berkembang menjadi sebuah ekosistem yang melibatkan penyedia sarana produksi, budidaya, pengolahan hasil panen, hingga pemasaran.
“Alhamdulillah, masyarakat di sana sudah mulai melihat ini menjadi sebuah peluang UMKM,” ujarnya.
Karena itu, Bupati mengajak generasi muda untuk tidak lagi memandang pertanian sebagai sektor konvensional, melainkan sebagai bidang usaha yang memiliki prospek keuntungan besar.
“Petani muda, terjun ke sektor pertanian. Anda pasti untung,” tegasnya.






