Petrokimia Gresik Luncurkan Teknologi Flex-Phos, Dorong Efisiensi Produksi Pupuk Nasional

Jajaran Dekom dan Direksi Pupuk Indonesia Group saat mengunjungi booth Petrokimia Gresik yang menampilkan inovasi Teknologi Flex-Phos dalam ajang PIQI 2025
Jajaran Dekom dan Direksi Pupuk Indonesia Group saat mengunjungi booth Petrokimia Gresik yang menampilkan inovasi Teknologi Flex-Phos dalam ajang PIQI 2025

Gresik – Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, berhasil meningkatkan kapasitas produksi pupuk NPK bersubsidi melalui modifikasi Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V dengan mengembangkan Teknologi Flex-Phos. Inovasi ini menjadi langkah strategis perusahaan untuk memastikan kelancaran produksi pupuk NPK subsidi yang ditugaskan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam rangka mewujudkan swasembada pangan nasional.

Teknologi Flex-Phos menjadi salah satu inovasi terbaik di ajang Pupuk Indonesia Quality and Innovation (PIQI) 2025 yang digelar di Gresik, Rabu (29/10/2025), dengan Petrokimia Gresik sebagai tuan rumah. Keberhasilan ini semakin memperkokoh posisi Petrokimia Gresik sebagai kiblat teknologi pupuk majemuk di Indonesia sekaligus produsen NPK terbesar di Tanah Air.

“Proyek Phonska V dengan Teknologi Flex-Phos merupakan langkah strategis Petrokimia Gresik untuk memenuhi kebutuhan pupuk NPK yang terus meningkat serta menjawab tantangan industri pupuk di masa depan. Diharapkan pabrik ini akan memperkuat pertanian Indonesia dan memastikan ketersediaan pupuk berkualitas,” ujar Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob.

Daconi menjelaskan, Pabrik Fosfat I sebelumnya hanya digunakan untuk produksi pupuk fosfat dengan keterbatasan fleksibilitas. Melalui modifikasi dan penerapan teknologi baru, kini pabrik tersebut mampu memproduksi pupuk NPK Chemical Reaction tanpa meninggalkan fungsi produksi pupuk fosfat seperti SP-36, SP-26, dan Phosgreen.

“Dengan fleksibilitas baru ini, pabrik mampu memproduksi NPK dalam jumlah lebih besar, memastikan ketersediaan pupuk nasional berkualitas unggul, sekaligus meningkatkan omzet dan daya saing perusahaan,” tegasnya.

Dari sisi kualitas, pupuk yang dihasilkan telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Sementara dari aspek ekonomi, inovasi ini mampu menghilangkan potensi kerugian sebesar Rp8,92 miliar per bulan atau Rp107,1 miliar per tahun akibat kehilangan produksi pupuk fosfat. Bahkan, implementasi Flex-Phos memberikan keuntungan langsung bagi perusahaan sebesar Rp175,86 miliar per tahun dari produksi pupuk NPK dan fosfat.

Selain itu, inovasi ini juga menciptakan value creation senilai Rp23,1 miliar serta menghemat biaya investasi proyek sebesar Rp28,2 miliar melalui skema swakelola.

“Secara keseluruhan, Teknologi Flex-Phos tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya operasional, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi pupuk di dalam negeri. Inovasi ini berkontribusi besar terhadap ketahanan pangan nasional melalui peningkatan ketersediaan pupuk bersubsidi yang stabil dan berkelanjutan,” tutup Daconi.

Sebagai informasi, PIQI 2025 merupakan ajang tahunan yang digelar Pupuk Indonesia untuk mengapresiasi para inovator berprestasi di lingkungan Pupuk Indonesia Grup. Kegiatan ini juga menjadi wadah berbagi solusi inovatif serta memperkuat posisi Pupuk Indonesia sebagai BUMN yang berorientasi pada inovasi dan keberlanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *