Gresik — Pemerintah Kabupaten Gresik terus memperkuat strategi pemerataan kontribusi pajak dari seluruh wilayah, termasuk desa dan daerah pinggiran. Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui kegiatan capacity building bertajuk “Peningkatan Pendapatan Daerah Bersama Desa Hebat”, yang digelar Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (BPPKAD) di Hotel Aston Gresik, Rabu (2/7/2025).
Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan desa dalam mengoptimalkan pendapatan asli daerah (PAD), khususnya dari sektor-sektor produktif perdesaan seperti Pajak Restoran dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Wakil Bupati Gresik, Asluchul Alif, menegaskan pentingnya memperkuat kapasitas aparatur desa agar tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek aktif dalam menopang PAD.
“Pemerataan pembangunan harus ditopang oleh pemerataan kontribusi. Maka sinergi antara pemerintah kabupaten dan desa mutlak diperlukan, terutama untuk meningkatkan kesadaran dan kompetensi aparatur desa terkait perpajakan,” tegasnya.
Meski demikian, Alif mengakui sejumlah tantangan masih membayangi pemungutan PBB di tingkat desa. Mulai dari pembaruan data objek pajak, distribusi SPPT, hingga pencatatan pembayaran yang akurat belum berjalan optimal. Keterbatasan SDM, minimnya infrastruktur digital, dan rendahnya pemahaman teknis menjadi hambatan utama.
Kepala BPPKAD Gresik, Andhy Hendro Wijaya, menyampaikan bahwa per 30 Juni 2025, realisasi penerimaan PBB sudah mencapai hampir 62 persen dari target tahunan.
“PBB masih menjadi tulang punggung PAD Gresik. Tapi capaian ini belum cukup. Kita perlu memperkuat intensifikasi dan ekstensifikasi pajak,” ujarnya.
Andhy menekankan pentingnya penguatan peran desa dan kualitas data yang akurat. Salah satu terobosan yang terus didorong adalah digitalisasi layanan perpajakan melalui aplikasi Laku Pandai, yang memungkinkan masyarakat membayar dan melaporkan pajak secara digital, termasuk pajak kendaraan bermotor.
“Dengan Laku Pandai, masyarakat tak perlu antre di loket. Semua bisa dilakukan lebih cepat dan efisien,” tambahnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh para camat, kepala desa, dan perangkat daerah terkait. Selain menjadi ruang berbagi praktik baik, forum ini juga menjadi langkah penting dalam menyamakan persepsi tentang peran strategis desa dalam ekosistem pendapatan daerah.
Hadir sebagai narasumber, Dr. Rusdianto Sesung, S.H., M.H. dari Universitas Narotama dan Abdullah Basit, Pimpinan Cabang Bank Jatim. Keduanya membahas peran lembaga keuangan dalam mendorong digitalisasi pembayaran pajak serta potensi sinergi antara perbankan dan pemerintah desa.






