Mahasiswa Unair Tutup Pengabdian BBK 6 di Desa Sukorejo dengan Pentas Seni Penuh Makna

Perpisahan Mahasiswa Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-6 Universitas Airlangga (Unair) menutup masa pengabdian mereka dengan menggelar pertunjukan seni bertajuk “Gelar Kreasi Sukorejo”, Selasa (29/7/2025).
Perpisahan Mahasiswa Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-6 Universitas Airlangga (Unair) menutup masa pengabdian mereka dengan menggelar pertunjukan seni bertajuk “Gelar Kreasi Sukorejo”, Selasa (29/7/2025).

Gresik – Perpisahan tak selalu diwarnai air mata. Di Desa Sukorejo, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, momen pamit justru dirayakan dengan suka cita dalam balutan seni dan kebersamaan. Mahasiswa Program Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-6 Universitas Airlangga (Unair) menutup masa pengabdian mereka dengan menggelar pertunjukan seni bertajuk “Gelar Kreasi Sukorejo”, Selasa (29/7/2025).

Acara yang berlangsung di Balai Desa Sukorejo ini menjadi puncak dari rangkaian kegiatan pengabdian mahasiswa yang telah berlangsung selama beberapa minggu. Uniknya, acara penutupan tidak dilakukan secara formal, melainkan melalui pertunjukan seni kolaboratif antara mahasiswa dan warga setempat dari berbagai kalangan.

“Kami senang karena mahasiswa BBK 6 Unair berhasil mengabdi. Warga juga merasa dihargai karena dilibatkan dari awal hingga akhir kegiatan,” ujar Kepala Desa Sukorejo, H. Muslikh, yang membuka acara secara resmi pada Sabtu (2/8/2025).

Acara dimulai dengan pemotongan tumpeng nasi kuning sebagai simbol rasa syukur dan perpisahan yang penuh makna. Usai prosesi simbolik, penyerahan plakat kenang-kenangan dilakukan sebagai tanda persaudaraan yang telah terjalin antara mahasiswa dan warga desa.

Panggung kemudian disulap menjadi arena ekspresi kreatif. Anak-anak TPQ Roudlotul Muta’allimin membuka pertunjukan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Disusul penampilan enerjik dari murid TK DWP Sukorejo yang menari ‘bumble bee’, serta siswa SDN 253 Sukorejo yang menyajikan puisi menyentuh.

Ibu-ibu PKK tak mau kalah, tampil membacakan puisi berjudul “Kepada Kawan” yang mengundang decak haru. Selanjutnya, giliran ibu-ibu RW 1 menyuguhkan musik daur ulang menggunakan kaleng, botol, dan ember plastik—simbol bahwa kreativitas bisa lahir dari hal-hal sederhana.

Sementara itu, warga RW 2 dan 3 tampil atraktif lewat atraksi bela diri, sebagai bentuk pelestarian budaya lokal.

Sebagai penutup, mahasiswa BBK memutar video dokumenter atau after movie yang merangkum kisah selama masa pengabdian—dari interaksi di posko, kegiatan edukatif, hingga momen kebersamaan yang penuh canda tawa dengan anak-anak desa. Suasana pun mendadak hening, beberapa warga menyeka air mata, mahasiswa saling berpelukan, menandai akhir kisah indah yang telah mereka ukir bersama.

“Kami pulang membawa lebih banyak dari yang kami bawa datang. Desa ini telah menjadi rumah kecil tempat kami belajar banyak hal. Seluruh program yang kami jalankan bukan sekadar rutinitas tetapi cermin dari semangat kami: bersama desa, membangun asa,” ungkap Devi, Koordinator Mahasiswa BBK 6 Unair.

Gelar Kreasi Sukorejo menjadi lebih dari sekadar acara perpisahan. Ia menjadi jembatan yang mempertemukan dunia akademik dengan masyarakat, membuka ruang kolaborasi yang saling memperkaya. Di atas panggung sederhana, tercipta cerita luar biasa kisah tentang kebersamaan, pengabdian, dan cinta terhadap desa.

“Malam itu, panggung desa bukan hanya milik kami, tetapi milik semua yang pernah bermimpi, berkeringat, dan tersenyum bersama,” tulis salah satu mahasiswa BBK 6 Unair dalam catatan kenangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *