Pendidikan dan Pranata Sosial : Pentingkah Dalam Mewujudkan Masyarakat Modern yang Beradab ?

Pentingkah Dalam Mewujudkan Masyarakat Modern yang Beradab
Pentingkah Dalam Mewujudkan Masyarakat Modern yang Beradab

A. Pendidikan dan pranata sosial

Pendidikan adalah proses yang melibatkan pemindahan pengetahuan keterampilan, nilai-nilai, dan norma-norma dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pendidikan sebagai usaha membina dan mengembangkan pribadi manusia dari aspek-aspek rohanian dan jasmaniah (Isma etal., 2022) yang berlangsung secara bertahap (Hasibuan & Prastowo, 2019). Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan secara terencana dan terorganisir dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa serta memiliki pribadi akhlak.

Tujuan utama pendidikan adalah membantu melakukan individu mengembangkan potensi mereka secara fisik, mental, emosional, dan sosiasl agar dapat memberikan kontribusi positif dalam masyarakat. Pendidikan memiliki dampak jangka panjang untuk perkembangan individu tetapi kemjuan sosial dan ekonomi suatu negara. Tanpa pendidikan yang kuat, generasi mendatang mungkin akan menghadapi kesulitan dalam memenuhi tuntutan dunia yang terus berkembang (Widyastono, H. 2012).

  • Pranata Sosial

Kata pranata dapat diartikan sebagai aturan yang berkaitan dengan kegiatan atau kebutuhan sosial tertentu yang bersifat resmi. Selain itu, pranata juga diartikan sebagai sistem pola sosial yang tersusun rapi dan relatif permanen. Pranata sosial merujuk pada aturan, norma, nilai, struktur dan menciptakan kerangka kerja untuk hubungan sosial dan membantu menjaga keseimbangan serta stabilitas dalam masyarakat.

Pranata sosial adalah struktur yang mengatur cara kita berinteraksi dan berfungsi dalam masyarakat. Tanpa pranata sosial yang kuat, masyarakat mungkin akan mengalami kebingungan, konflik, dan ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan (Purwaningsih, S. 2020).

B. Hubungan antara pendidikan dan pranata sosial

Pendidikan dan pranata sosial saling berhubungan dalam membentuk individu yang terampil, beretika, dan dapat berkontribusi secara positif dalam masyarakat. Pendidikan membantu menyampaikan nilai-nilai yang mendasari pranata sosial, sementara pranata sosial menyediakan konteks di mana pendidikan diterapkan dalam situasi kehidupan nyata. Sebagai contoh, pendidikan tidak hanya mengajarkan keterampilan akademis, tetapi juga keterampilan sosial seperti kerja tim, komunikasi, dan toleransi yang penting dalam berinteraksi dalam pranata kerja dan masyarakat.

Secara keseluruhan, pendidikan dan pranata sosial memainkan peran penting dalam membentuk dasar yang kuat untuk perkembangan individu dan masyarakat. Dengan mendukung pendidikan yang berkualitas dan menjaga pranata sosial yang sehat, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan, kerjasama, dan kesejahteraan bagi semua anggotanya. Pendidikan mengajarkan nilai-nilai dan norma- norma yang diperlukan untuk berpartisipasi secara efektif dalam pranata sosial, sementara pranata sosial memberikan kerangka kerja bagi pendidikan dengan mengatur bagaimana pengetahuan dan keterampilan disampaikan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari (Said, U. 2017).

C. Pentingnya pendidikan dan pranata sosial dalam mewujudkan masyarakat modern yang beradab

Pendidikan dan pranata sosial merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Karena hanya dengan pendidikan dan pranata sosial masyarakat mampu untuk menerjemahkan nilai-nilai, gagasan, sikap dan tindakan sosial yang mencerminkan kehidupan yang bermoral dan bermartabat. Tanpa pendidikan dan pranata sosial masyarakat tidak bisa menjadi manusia yang beradab. Dengan pendidikan dan pranata sosial masyarakat dapat mengembangkan segala potensinya untuk menjadi manusia yang cerdas dan beradab. Untuk mewujudkan masyarakat yang beradab, terdapat satu teori yaitu teori perubahan sosial, dimana teori tersebut menjelaskan bagaimana pendidikan dapat mempengaruhi individu dalam masyarakat yang nantinya akan memberikan efek pada perubahan teknologi, perilaku, sistem sosial, dan norma. teori perubahan sosial juga memberikan asumsi bahwa setiap masyarakat berpotensi untuk berubah, baik perubahan tersebut bersifat positif ataupun negatif.

D. Perlukah sistem pendidikan Indonesia meniru Jepang?

Banyaknya fenomena negatif yang terjadi di media sosial menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia belum mencapai titik berhasil dalam menciptkan pondasi karakter bangsa yang kokoh, masalah krisis moral tak henti bermunculan yang menjadi trending topik di media sosial diantaranya berupa kasus asusila yang tidak memandang umur, korupsi, pembunuhan, diskriminasi, intoleransi dan sebagainya. Pendidikan karakter bukanlah suatu usaha yang mudah untuk diterapkan pemerintah menerapkan pendidikan karakter dalam kurikulum pembelajaran. Namun, hal tersebut tidaklah maksimal jika hanya diajarkan di sekolah saja, orang tua dan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat penting. Kenyataannya sebagian masyarakat Indonesia lebih menonjolkan nilai-nilai religius saja tidak dengan pendidikan karakter.

Negara Jepang dikenal sebagai negara maju yang memiliki keunggulan karakter kerja keras, disiplin, sederhana dan cinta tanah air menjadi karakter yang menonjol dari masyarakat jepang. Tak jarang informasi di media sosial tentang anak-anak yang sangat bersikap santun dan disiplin dalam segala situasi hal ini dikarenakan masyarakat Jepang mempercayai bahwa manusia dapat diubah keadaan dan sifatnya melalui usaha orang lain dan dirinya sendiri, mereka tidak mempercayai bahwa manusia sudah sejak semula ditetapkan keadaan tertentu yang tidak dapat diubah Tu berubah. Dengan kepercayaan tersebut masyarakat Jepang sangat mengutamakan pendidikan terutama pendidikan karakter yang disebut dengan  Dontuke Kyoniku, pendidikan ini ditempuh mulai SD  hingga SMA setingkat. Melalui pendidikan moral ini terciptalah karakter bangsa Jepang yang diketahui masyarakat dengan karakter disiplin,ulet, jujur, pekerja keras, bertoleransi tinggi, dan sebagainya.

Di Jepang Murid atau siswa baru mengikuti ujian mata pelajaran pada tingkat kelas empat atau setara dengan usia 10 tahun. Hal ini disebabkan oleh fokus awal pada usia tiga tahun pertama, di mana anak-anak diberikan pemahaman penting tentang tata cara berperilaku sehari-hari dan nilai sopan santun. Di Indonesia, perlu adanya peningkatan dalam kedisiplinan dan etika, karena terdapat kemerosotan dalam hal ini. Bahkan, di Indonesia seringkali sulit bagi anak-anak untuk mengantri saat berbelanja. Tak jarang siswa di Indonesia membenarkan segala cara untuk memperoleh skor terbaik dalam ujian mata pelajarannya karena sistem pendidikan di Indonesia lebih menekankan aspek kognitif yang meliputi nilai ujian,capaian akademik dan ulangan harian sedangkan sistem pendidikan Jepang lebih mengedepankan sopan santun, tata krama, kedisiplinan, serta penanaman nilai-nilai norma sejak usia dini. Namun,  nilai laporan dan nilai ujian tidak menjadi fokus utama, melainkan lebih digunakan sebagai alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi, Sekolah Menengah Atas, atau Sekolah Menengah Pertama.

 

Daftar Pustaka

Harahap, A. N., Ananda, A., Gistituati, N., Rahmawati, T., Nusantara, U. G., Sosial, F. I., Padang, U. N., Pendidikan, F. I., Padang, U. N., Artikel, I., Pendidikan, S., Jepang, S. P., Indonesia, S. P., Suzana, Y., Harefa, D., & Education, J. (2024). Perbandingan sistem pendidikan negara jepang dan indonesia. Jurnal Pendidikan Dan Pengembangan, 12(1), 386–390.

Junaedi, M., & Syukur, F. (2017). Moral Education in Japanese Schools a Model for Improving Character Education in Indonesia. Analisa: Journal of Social Science and Religion, 2(01), 23. https://doi.org/10.18784/analisa.v2i01.416

Nasution, T., Khoiri, N., Firmani, D., & Rozi. (2022). Perbedaan Sistem Kurikulum Pendidikan Anggota Asean, Indonesia dan Singapura. Jurnal Pendidikan dan Konseling, 4, 1349–1358.

 

Penulis :

Berlian Fi Sabilillah Rahmadhani, Atika Suri Laraswati, Nasy’atul I’anah, Putri Nihayati, Rosyidatul Mahbubah, Arya Setya Nugroho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *