Gresik – Dusun Pereng Kulon, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, seakan berubah menjadi panggung budaya raksasa. Ribuan warga berjubel menyaksikan gelaran Karnaval dan Pawai Budaya Rakyat serta Pertunjukan Drama Seni Nusantara yang digelar Sabtu (30/8/2025) malam.
Kegiatan yang diinisiasi Karang Taruna Buana Yudha ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan ajang kreativitas sekaligus pesta rakyat yang sarat makna. Meski hanya digelar di tingkat dusun, suasananya tak kalah semarak dari karnaval tingkat kecamatan bahkan kabupaten.
Sebanyak 10 RT ambil bagian, masing-masing menampilkan suguhan khas. Ada yang mengangkat cerita rakyat, ada pula yang mementaskan kisah perjuangan para pahlawan. Salah satunya, RT 28 yang menghidupkan kembali adegan heroik perlawanan rakyat terhadap penjajah.
Kemeriahan karnaval kian terasa dengan hadirnya maskot raksasa setinggi lebih dari tiga meter, kostum warna-warni, hingga properti yang dibuat dengan penuh ketekunan selama tiga bulan terakhir. Semua murni hasil karya warga.
Tak tanggung-tanggung, biaya yang digelontorkan tiap RT mencapai Rp20–30 juta. Jika diakumulasikan, total dana yang terserap dalam hajatan budaya ini menembus Rp200 juta lebih. Besarnya biaya seakan sepadan dengan hasil: sebuah tontonan yang membuat warga tak berhenti berdecak kagum.
Ketua Panitia Pelaksana, Edi Suflan, mengaku bangga dengan antusiasme warga. “Kami ingin suasana dusun lebih guyub rukun sekaligus memeriahkan HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Harapannya bisa berkelanjutan, minimal digelar dua tahun sekali,” ujarnya.
Tokoh masyarakat sekaligus anggota DPRD Gresik, Noto Utomo, pun tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. “Semangat masyarakat dalam berkarnaval ini menunjukkan kekompakan dan gotong royong yang luar biasa. Hasilnya benar-benar meriah,” tuturnya.
Karnaval ini bukan hanya tentang penampilan. Persaingan juga terasa karena setiap RT berusaha menampilkan yang terbaik demi memperebutkan hadiah berupa piala dan uang tunai Rp10 juta.
Noto menambahkan, tradisi karnaval budaya di Pereng Kulon punya potensi besar jika dikelola dengan baik. “Kami ingin karnaval ini punya ciri khas, sehingga bisa dikenal luas, seperti halnya karnaval di Desa Sembayat,” ujarnya penuh optimisme.
Dengan segala kreativitas, biaya, dan semangat kebersamaan, warga berharap karnaval ini terus berlanjut. Tak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai perekat sosial dan kebanggaan bersama.
“Insyaallah dua tahun sekali akan digelar lagi. Semoga ke depan lebih meriah, lebih besar, dan semakin bermanfaat bagi warga,” pungkas Edi penuh semangat.






