Mbah H. Noloyudho dan Lahirnya Sumberrejo, Kisah Desa yang Terus Dirawat Lewat Haul Tahunan

Haul Mbah H. Noloyudho kembali digelar khidmat di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kamis (11/6/2026).
Haul Mbah H. Noloyudho kembali digelar khidmat di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kamis (11/6/2026).

Gresik – Setiap tahun, warga Desa Sumberrejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, berkumpul memanjatkan doa untuk mengenang sosok Mbah H. Noloyudho. Tradisi haul tersebut bukan sekadar mengenang leluhur, melainkan juga merawat jejak sejarah berdirinya desa yang dahulu bermula dari kawasan mangrove bernama Penthoel.

Haul Mbah H. Noloyudho kembali digelar khidmat di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kamis (11/6/2026). Ratusan warga memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian doa bersama, tahlil, pengajian, hingga hadrah sebagai bentuk penghormatan kepada pembabat alas Desa Sumberrejo.

Berdasarkan catatan sejarah desa, wilayah yang kini menjadi Desa Sumberrejo dahulu dikenal dengan nama Desa Penthoel. Nama tersebut berasal dari tanaman mangrove yang banyak tumbuh di kawasan itu. Bunga mangrove yang bentuknya menyerupai pentol membuat masyarakat kala itu menyebut wilayah tersebut sebagai Penthoel.

Kala itu kawasan tersebut masih berupa hutan mangrove dan belum berpenghuni. Mbah H. Noloyudho yang diyakini memiliki garis keturunan Wali Songo kemudian membuka wilayah tersebut dan mendirikan padepokan silat. Keberadaan padepokan itu lambat laun menarik banyak orang untuk datang dan menetap hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah perkampungan.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk, desa semakin berkembang. Pada masa pemerintahan Kepala Desa Ustman, nama Desa Penthoel kemudian diubah menjadi Desa Sumberrejo, yang mengandung harapan agar desa menjadi sumber kesejahteraan dan keberkahan bagi masyarakatnya.

Kepala Desa Sumberrejo, Akhmadi, mengatakan tradisi haul dilaksanakan secara istiqamah sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah H. Noloyudho sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.

“Haul ini bukan hanya tradisi tahunan, tetapi juga bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka dan membangun desa ini,” ujar Akhmadi.

Haul Mbah H. Noloyudho kembali digelar khidmat di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kamis (11/6/2026).
Haul Mbah H. Noloyudho kembali digelar khidmat di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kamis (11/6/2026).

Rangkaian haul tahun ini berlangsung selama dua hari. Kegiatan diawali dengan khatmil Al-Qur’an pada Rabu (10/6/2026), dilanjutkan tahlil dan doa bersama serta tausiyah agama yang disampaikan KH M. Zainul Haq pada Kamis pagi. Pada malam harinya, masyarakat kembali berkumpul dalam kegiatan Lailatul Hadrah Ishari sebagai penutup rangkaian haul.

Akhmadi juga menyampaikan keyakinan masyarakat terhadap keberkahan mendoakan para leluhur yang selama ini terus dijaga.

“Alhamdulillah, atas doa dan wasilah para sesepuh, mayoritas warga Sumberrejo sudah pernah menunaikan ibadah haji,” ungkapnya.

Ia menuturkan, berdasarkan cerita turun-temurun dari para sesepuh desa, Mbah H. Noloyudho wafat saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan dimakamkan di sana.

“Menurut cerita para sesepuh yang kami terima secara turun-temurun, Mbah H. Noloyudho wafat di Makkah dan dikebumikan di sana,” ujarnya.

Tak hanya meninggalkan jejak sejarah berupa lahirnya sebuah desa, Mbah H. Noloyudho juga diyakini mewariskan nilai-nilai keagamaan yang terus berkembang hingga kini. Sejumlah keturunannya disebut menjadi tokoh agama dan mendirikan pondok pesantren di berbagai daerah.

Sementara itu, Sekretaris Desa Sumberrejo, Mohammad Fachruddin, menambahkan bahwa penutupan haul melalui kegiatan Lailatul Hadrah Ishari merupakan bagian dari upaya melestarikan tradisi seni Islami yang telah lama hidup di tengah masyarakat Desa Sumberrejo.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menjaga tradisi keagamaan dan budaya Islami agar tetap hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Bagi warga Sumberrejo, haul Mbah H. Noloyudho bukan sekadar agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi ruang bersama untuk merawat sejarah desa, memperkuat nilai keagamaan, dan menjaga warisan budaya yang telah hidup lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *