Gresik – Kelompok Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Desa Karangcangkring, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik terus menunjukkan kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan usaha ekonomi produktif.
Melalui pemanfaatan hasil pertanian hidroponik, TP PKK Karangcangkring kini sukses mengolah pakcoy menjadi kerupuk bernilai jual dan peminatnya menembus hingga luar daerah.
Ketua TP PKK Desa Karangcangkring, Fenni Fuadiyah menjelaskan bahwa inovasi kerupuk pakcoy bermula dari program pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Wijaya Putra Surabaya yang dilaksanakan pada tahun 2024.
Saat itu, para mahasiswa terjun langsung ke desa untuk berkontribusi dalam pemberdayaan ibu-ibu PKK melalui pelatihan pertanian hidroponik.
“Awalnya ibu-ibu PKK diajari menanam sayuran hidroponik, khususnya pakcoy. Seluruh fasilitas hidroponik merupakan bantuan dari Universitas Wijaya Putra. Kami tinggal praktik dan merawatnya,” ungkapnya.
Program tersebut berjalan dengan baik dan hasil panen pakcoy dinilai cukup melimpah. Melihat keberhasilan tersebut, pada tahun 2025 Universitas Wijaya Putra kembali memberikan kegiatan lanjutan sebagai bentuk kesinambungan program.
Kali ini, fokusnya bukan hanya pada budidaya, tetapi juga pengembangan produk olahan dari hasil tanaman hidroponik.
Fenni menuturkan, sebelum adanya pakcoy, TP PKK Karangcangkring sebenarnya sudah memiliki usaha kerupuk bawang yang dirintis sejak tahun 2018. Produksi kerupuk dilakukan di lokasi belakang Balai Desa Karangcangkring. Dari situlah muncul ide untuk mengolaborasikan hasil panen pakcoy ke dalam produk kerupuk.
“Karena pakcoy hidroponik kami sukses, muncul ide untuk mengolahnya menjadi kerupuk. Pakcoy diblender, sehingga menghasilkan warna hijau alami. Rasanya enak dan manfaatnya juga ada karena mengandung sayuran,” jelasnya.
Inovasi ini disambut positif oleh masyarakat. Kerupuk pakcoy dinilai menjadi alternatif camilan sehat, terutama bagi anak-anak yang biasanya kurang menyukai sayuran.
Selain kerupuk pakcoy, TP PKK Karangcangkring juga mengembangkan varian lain seperti kerupuk rasa cumi dan kerupuk kelor. Produk kerupuk ini dipasarkan dengan merek “Kerupuk Cap Jempol” khas Desa Karangcangkring.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi dan terjangkau, mulai dari Rp1.000, Rp5.000, hingga Rp10.000 untuk kemasan kecil. Sementara untuk kemasan pouch yang dipasarkan ke pusat oleh-oleh dan supermarket, harganya sekitar Rp15.000 per kemasan.
Tak hanya dijual dalam bentuk matang, TP PKK Karangcangkring juga melayani pesanan kerupuk mentah. Bahkan, pesanan kerupuk mentah ini juga diminati sampai dibawa ke luar daerah seperti Jakarta dan Kalimantan.
Untuk harga kerupuk mentah, varian pakcoy dibanderol sekitar Rp15.000, rasa cumi Rp17.000, dan kerupuk bawang sekitar Rp13.000.
“Pemasarannya masih kita kembangkan karena memang terkendala di digital marketingnya. Pesanan paling banyak biasanya untuk hajatan. Alhamdulillah omzetnya jutaan,” ungkap Fenni.
Ke depan, TP PKK Karangcangkring berharap usaha kerupuk pakcoy ini terus berkembang dan mampu memperluas jaringan pemasaran.
“Harapan kami kerupuk ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tapi bisa menembus pasar yang lebih luas dan menjadi produk unggulan desa,” pungkasnya.






