MUI Gresik Goes to School, Pelajar SMPN 2 Diingatkan Jaga Pergaulan dan Masa Depan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik di UPT SMP Negeri 2 Gresik, Jalan KH. Kholil No. 16, Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, Senin (10/8/2026).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik di UPT SMP Negeri 2 Gresik, Jalan KH. Kholil No. 16, Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, Senin (10/8/2026).

Gresik – Masa remaja menjadi fase penting dalam pembentukan karakter sekaligus menentukan masa depan generasi muda. Karena itu, pelajar perlu mendapatkan pembekalan agama dan pemahaman yang cukup agar mampu menjaga diri dari berbagai perilaku yang berisiko merugikan masa depan.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan MUI Gresik Goes to School yang digelar Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Gresik di UPT SMP Negeri 2 Gresik, Jalan KH. Kholil No. 16, Kelurahan Kebungson, Kecamatan Gresik, Senin (10/8/2026).

Mengusung tema “Membina Karakter, Menginspirasi Generasi”, kegiatan tersebut menjadi sarana edukasi bagi para pelajar untuk memahami pentingnya menjaga diri, pergaulan, serta membangun karakter sejak usia remaja.

Ketua MUI Kabupaten Gresik Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, Nyai Hj. Hajar Idris, mengingatkan para siswa agar menjadikan shalat sebagai salah satu benteng utama dalam menjalani kehidupan.

“Nasihat kami dari MUI yang pertama adalah mari jaga shalatnya,” tuturnya.

Nyai Hajar kemudian mengutip kandungan Surat Al-‘Ankabut ayat 45 yang menjelaskan bahwa shalat dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.

Menurutnya, pembiasaan menjalankan ibadah diharapkan dapat memperkuat karakter dan membantu pelajar menghadapi berbagai tantangan dalam pergaulan.

“Dengan keberkahan shalat, insyaallah anak-anak terbentengi dari perbuatan maksiat,” ujarnya.

Selain menjaga shalat, Nyai Hajar menekankan pentingnya menghormati orang tua dan guru. Keduanya dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter sekaligus memberikan arahan kepada anak ketika menghadapi berbagai persoalan pada masa remaja.

Ia juga mengingatkan pelajar mengenai risiko pergaulan bebas dan hubungan seksual sebelum menikah. Pesan tersebut disampaikan berdasarkan pengalaman MUI Gresik saat memberikan bimbingan konseling kepada pemohon dispensasi nikah di Pengadilan Agama (PA) Gresik.

Nyai Hajar mengungkapkan, dalam proses konseling tersebut pihaknya menemukan sejumlah kasus anak yang masih berusia belasan tahun mengalami kehamilan sebelum menikah.

“Kami melihat begitu tragisnya ketika MUI Gresik melakukan Bimbingan Konseling Pemohon Dispensasi Nikah di PA Gresik. Anak-anak yang masih berusia belasan tahun sudah hamil,” ungkapnya.

Karena itu, ia berpesan kepada para siswa SMPN 2 Gresik agar tidak terjerumus dalam perilaku tersebut. Masa remaja, menurutnya, sebaiknya dimanfaatkan untuk belajar, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.

“Semoga para siswa-siswi SMPN 2 Gresik jangan sampai melakukannya sebelum menikah,” pesannya.

Nyai Hajar juga mengingatkan bahwa berdasarkan ketentuan hukum perkawinan di Indonesia, batas minimal usia perkawinan adalah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan.

Ia meminta pelajar tidak terburu-buru mengambil keputusan menikah pada usia anak karena terdapat berbagai risiko yang perlu dipertimbangkan, termasuk kesiapan fisik dan psikis.

“Kepada anak-anak, jangan terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah pada usia anak, karena dapat membawa risiko terhadap kesiapan fisik maupun psikis. Kami juga berpesan untuk jaga diri dan jaga hati,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nyai Hajar juga mengapresiasi kebijakan UPT SMP Negeri 2 Gresik yang menerapkan pemisahan kelas antara siswa laki-laki dan perempuan.

Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk membantu menjaga pergaulan pelajar sekaligus mendukung proses pembentukan karakter.

“Alhamdulillah SMPN 2 Gresik kelasnya sudah pisah antara laki-laki dan perempuan. Ini luar biasa dan harus diapresiasi. Semoga ini bisa menjaga para siswa demi kemaslahatan kalian sendiri,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT SMP Negeri 2 Gresik, H. Mohammad Salim, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada MUI Kabupaten Gresik, khususnya Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga, yang telah menghadirkan kegiatan edukatif tersebut.

Menurutnya, kegiatan MUI Goes to School memberikan manfaat bagi para siswa, khususnya pelajar perempuan yang membutuhkan pengetahuan mengenai keputrian sebagai bekal menghadapi masa depan.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anak-anak kami, terutama anak-anak perempuan yang butuh pengetahuan keputrian. Semoga anak-anak bisa memperoleh manfaat dari kegiatan ini, terutama bekal untuk masa depannya,” tuturnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik Hj. Endang Herawaty, S.Psi., serta jajaran Hj. Tulus Ujiati, M.Pd.I., dr. Hj. Muzammila, dan Hj. Dewi Fatimah, S.Ag.

Melalui kegiatan tersebut, MUI Gresik berharap pembinaan karakter dan edukasi keagamaan dapat terus diperluas ke lingkungan sekolah sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda yang berkarakter, berakhlak, dan mampu menjaga diri dalam menghadapi tantangan masa remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *