Gresik – Permasalahan anak susah makan masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak orang tua. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga berpotensi menghambat proses tumbuh kembang anak apabila tidak ditangani dengan tepat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pelatihan Responsive Feeding Mengatasi Anak Susah Makan dan Mendukung Tumbuh Kembang Anak” di Balai Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Jumat (10/7/2026).
Kegiatan ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui program pemberdayaan masyarakat yang dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Tim pelaksana terdiri atas Arina Nur Isnani (NBI 1512300245), Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi; Jessica Maria Magdalena (NBI 1512300340), Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi; serta Deswina Cahya Nuswantari (NBI 1612300062), Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Pelatihan diikuti puluhan ibu yang memiliki balita dan tergabung dalam Posyandu Desa Sukorejo. Sejak awal kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian materi yang disiapkan.
Sebelum memasuki sesi utama, peserta terlebih dahulu mengisi pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mengenai perilaku makan anak serta pola pemberian makan yang selama ini diterapkan di rumah.
Selanjutnya, para peserta mendapatkan materi mengenai berbagai penyebab anak susah makan, konsep responsive feeding, cara mengenali tanda lapar dan kenyang pada anak, penyusunan jadwal makan sesuai usia, kebiasaan yang perlu dihindari ketika waktu makan, hingga langkah-langkah menghadapi anak yang mengalami picky eater.
Belajar Sambil Bermain Lewat Roda Parenting
Agar penyampaian materi lebih mudah dipahami, tim mahasiswa menghadirkan media edukasi interaktif berupa Roda Parenting.
Melalui permainan tersebut, peserta secara bergantian memutar roda yang berisi berbagai kategori pertanyaan, mulai dari Mitos atau Fakta, Gizi Sesuai Usia, Apa yang Akan Ibu Lakukan?, Tanda Lapar atau Kenyang, hingga Komunikasi Positif.
Setiap peserta kemudian membaca kartu yang diperoleh, menjawab pertanyaan, lalu mendiskusikannya bersama fasilitator.
Metode ini membuat suasana pelatihan berlangsung lebih hidup. Para ibu tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif berbagi pengalaman mengenai berbagai tantangan saat mendampingi anak makan di rumah.
Diskusi berkembang mengenai kebiasaan anak yang hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, sulit menghabiskan makanan, hingga orang tua yang masih terbiasa memaksa anak makan karena khawatir kebutuhan gizinya tidak terpenuhi.
Sebagai evaluasi, peserta kembali mengikuti post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah mengikuti pelatihan.
Berangkat dari Permasalahan di Lapangan
Pelaksanaan kegiatan ini bukan tanpa alasan. Sebelum menyusun program, tim mahasiswa melakukan wawancara dengan kader Posyandu Desa Sukorejo, Tri Ginantri.
Hasil identifikasi menunjukkan masih ditemukan sejumlah balita yang mengalami kesulitan makan, memilih-milih makanan (picky eater), bahkan memiliki berat badan di bawah harapan. Di sisi lain, sebagian orang tua masih merasa bingung menentukan cara yang tepat ketika anak menolak makan.
Temuan tersebut menjadi dasar penyusunan materi pelatihan agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan, Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa keberhasilan pola makan anak tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang diberikan, tetapi juga cara orang tua membangun interaksi selama proses makan berlangsung.
“Melalui pelatihan ini kami ingin membantu orang tua memahami bahwa kebiasaan makan yang baik dibangun melalui interaksi yang positif. Responsive feeding mengajarkan orang tua untuk mengenali kebutuhan anak dan memberikan respons yang tepat tanpa paksaan sehingga proses makan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan,” jelasnya.
Menurutnya, ketika anak merasa nyaman saat makan, kebiasaan makan sehat akan lebih mudah terbentuk dibandingkan jika orang tua menggunakan cara memaksa atau memberikan ancaman.
Pengalaman Berharga Bagi Mahasiswa
Bagi tim mahasiswa, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung kepada masyarakat.
Perwakilan mahasiswa, Arina Nur Isnani, mengatakan edukasi sederhana seperti responsive feeding diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan anak.
“Kami berharap materi yang diberikan dapat menjadi bekal bagi para ibu dalam menghadapi anak yang susah makan. Hal-hal sederhana yang diterapkan secara konsisten di rumah dapat membantu membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat. Semoga ilmu yang dibagikan melalui kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi keluarga di Desa Sukorejo,” ujarnya.
Pemdes Sukorejo Apresiasi Program
Sekretaris Desa Sukorejo, Tresnani Galuh Larasati, S.Psi., mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang dinilai menjawab kebutuhan warga.
Menurutnya, persoalan anak susah makan masih menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan para orang tua kepada kader Posyandu.
“Kalau kemarin ada penyuluhan dari adik-adik tentang ini, ibu-ibu jadi tahu. Menurut saya sangat terbantu. Tidak semua orang tua memiliki literasi yang sama, sehingga kegiatan seperti ini memberikan pengetahuan baru bagi mereka,” katanya.
Ia menjelaskan, pelatihan tersebut memberikan pemahaman bahwa anak susah makan tidak selalu disebabkan karena pilih-pilih makanan. Faktor lain seperti kondisi kesehatan, tumbuh gigi, suasana hati anak, hingga pemberian porsi makan yang terlalu besar juga dapat memengaruhi nafsu makan anak.
Selain itu, orang tua juga diajarkan agar tidak terpaku pada bentuk penyajian makanan tertentu.
“Kalau inovasi makanan, kita tidak bisa mematenkan karena menyesuaikan kondisi ekonomi dan waktu setiap keluarga. Yang penting ibu-ibu memahami bahwa makanan bisa disajikan lebih menarik sehingga anak lebih tertarik untuk makan,” ungkapnya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh para peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dibagikan kepada orang tua lainnya.
Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, UNTAG Surabaya berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kader Posyandu, dan masyarakat dapat terus terjalin. Edukasi mengenai responsive feeding diharapkan menjadi langkah kecil yang mampu memberikan dampak besar dalam membangun kebiasaan makan sehat sejak usia dini, sekaligus mendukung tumbuh kembang anak yang optimal.






