Antisipasi Geopolitik Global, Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat Perkuat Produksi NPK Nasional

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, bersama Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf meninjau lokasi proyek pembangunan Tangki Asam Sulfat di kawasan Petrokimia Gresik.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, bersama Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf meninjau lokasi proyek pembangunan Tangki Asam Sulfat di kawasan Petrokimia Gresik.

Gresik – Petrokimia Gresik, perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, memulai proyek strategis pembangunan tangki asam sulfat guna memperkuat kemandirian pasokan bahan baku pupuk nasional. Proyek ini ditandai dengan kegiatan ground breaking oleh Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf, bersama Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, baru-baru ini.

Pembangunan dua unit tangki asam sulfat dengan kapasitas masing-masing 20.000 ton ini menjadi langkah antisipatif Petrokimia Gresik dalam menghadapi ketidakpastian rantai pasok global, sekaligus memperkuat keberlanjutan produksi pupuk majemuk NPK di dalam negeri.

Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Aminuddin Ma’ruf, menyebut proyek tersebut sejalan dengan perhatian Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto terhadap isu ketahanan pangan nasional dalam Asta Cita.

“Dengan kondisi geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, ketahanan pangan harus ditopang oleh industri pupuk yang mandiri. Proyek ini menjadi bagian penting dalam mendukung swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi kinerja Pupuk Indonesia Group, termasuk Petrokimia Gresik, yang dinilai berhasil berkontribusi terhadap percepatan pencapaian swasembada pangan nasional pada tahun 2025, lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah.

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menjelaskan bahwa asam sulfat merupakan bahan baku vital dalam produksi pupuk majemuk NPK. Keberadaan tangki baru ini akan meningkatkan keandalan pasokan bahan baku sekaligus fleksibilitas operasional perusahaan.

“Pembangunan tangki asam sulfat ini akan memperkuat pasokan bahan baku NPK nasional. Dengan demikian, Petrokimia Gresik dapat terus meningkatkan kontribusi dalam menyediakan pupuk berkualitas bagi pertanian Indonesia secara berkelanjutan,” kata Daconi.

Sebagai pionir pupuk majemuk di Indonesia sejak tahun 2000, Petrokimia Gresik saat ini memiliki kapasitas produksi pupuk NPK mencapai 2,7 juta ton per tahun, menjadikannya produsen pupuk majemuk terbesar di Tanah Air. Dengan tambahan fasilitas ini, total kapasitas penyimpanan asam sulfat Petrokimia Gresik nantinya akan mencapai 100.000 ton.

Proyek pembangunan tangki asam sulfat ini berlokasi di kawasan Petrokimia Gresik, Jawa Timur, tepatnya di area reklamasi tahap III dengan luas lahan sekitar 3 hektare. Proyek ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada Mei 2027 dengan waktu pengerjaan sekitar 18 bulan.

Selain aspek produksi, Daconi menegaskan bahwa proyek ini juga mengedepankan standar keselamatan dan lingkungan. Seluruh proses pembangunan dilakukan dengan penerapan ketat aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta didukung kerja sama dengan Rumah Sakit Petrokimia Gresik untuk penanganan kondisi darurat.

“Kami memastikan proyek ini berjalan aman, ramah lingkungan, dan sesuai dengan standar industri. Ini menjadi komitmen kami dalam menjalankan pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *