Ratusan Warga Bulangan Berebut Ikan di Waduk Srumbung, Tradisi Sambut Sedekah Bumi & HUT RI ke-80

Warga Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik saat mengikuti tradisi Ngubek Srumbung, yaitu berebut ikan bersama-sama, Rabu (20/8/2025) pagi.
Warga Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik saat mengikuti tradisi Ngubek Srumbung, yaitu berebut ikan bersama-sama, Rabu (20/8/2025) pagi.

Gresik – Suasana meriah menyelimuti Waduk Srumbung, Desa Bulangan, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Rabu (20/8/2025) pagi. Ratusan warga tumpah ruah turun ke waduk yang sebelumnya telah dikuras airnya untuk mengikuti tradisi Ngubek Srumbung, yaitu berebut ikan bersama-sama.

Tradisi ini rutin digelar Pemerintah Desa Bulangan dalam rangka memperingati sedekah bumi sekaligus memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Di waduk seluas 6.272 meter persegi tersebut, berbagai jenis ikan dilepas untuk diperebutkan warga, mulai dari mujair, bandeng, patin, gabus hingga tombro. Dengan penuh antusias, warga dari anak-anak hingga orang dewasa berlomba menangkap ikan menggunakan tangan kosong, bubu, maupun seser.

“Alhamdulillah saya dapat ikan besar-besar. Teman-teman juga banyak yang dapat hasil tangkapan,” ujar Lek Hin, salah satu warga peserta.

Kegiatan ini dihadiri Pj Kepala Desa Bulangan Heru Budi Setiawan, Sekdes Masbuhin, jajaran perangkat desa, BPD, Koramil Dukun, Polsek, serta tokoh masyarakat setempat.

Sekdes Bulangan, Masbuhin, menjelaskan bahwa pihak desa telah menebar benih ikan sejak April lalu, sehingga kini siap dipanen warga. Menariknya, semua yang ikut serta dalam acara ini tidak dipungut biaya.

“Ngubek Srumbung merupakan agenda rutin tahunan. Alhamdulillah hasil tangkapan warga cukup untuk dimakan bersama keluarga, bahkan sebagian bisa digunakan sebagai lauk pauk tumpeng sedekah bumi besok,” tutur Masbuhin.

Ia menambahkan, tradisi ini sekaligus menjadi momen kebersamaan. “Semoga jadi sarana silaturahmi dan hiburan bagi warga di momen kemerdekaan ini,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Koramil Dukun, Serka Mardiono, mengingatkan pentingnya melestarikan budaya lokal agar tetap terjaga di tengah gempuran budaya baru.

“Para peserta diharuskan memakai alat tangkap tradisional, tidak boleh menggunakan alat modern. Inilah cara kita menjaga tradisi tetap hidup,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *