Hancur Akibat Gempa, PKPRI Gresik Salurkan Bantuan Renovasi Pembangunan Mushollah Al Mughni Suwari Bawean

Pembangunan Mushollah Al Mughni Suwari, di Desa Suwari Kecamatan Sangkapura Bawean yang hancur akibat gempa beberapa bulan lalu.
renovasi Pembangunan Mushollah Al Mughni Suwari, di Desa Suwari Kecamatan Sangkapura Bawean yang hancur akibat gempa beberapa bulan lalu.

Gresik – Bantuan kemanusian pasca gempa di Pulau Bawean terus mengalir. Kali ini, Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kabupaten Gresik salurkan bantuan sebesar Rp205 juta untuk renovasi Pembangunan Mushollah Al Mughni Suwari, di Desa Suwari Kecamatan Sangkapura Bawean yang hancur akibat gempa beberapa bulan lalu.

Donasi diserahkan langsung oleh Ketua PKPRI Gresik Drs.H.Ahmad Djamil M.Pd didampingi sekretasi Drs. H. Choirullah,SH.M.Pd kepada panitia pembangunan Mushollah

Ahmad Djamil menyampaikan bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan pembangunan Mushollah dan masyarakat dapat kembali melakukan aktifitas ibadah seperti sedia kala.

“Semoga bantuan ini dapat bermanfaat khususnya bagi Masyarakat Desa Suwari,” ujarnya

“Mari kita sama-sama berdoa agar kedepan tidak ada lagi gempa kembali, sehingga kita yang ada di Pulau Bawean bisa beraktifitas dengan tenang,” pungkas Ketua PKPRI Gresik Ahmad Djamil.

Diketahui Dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ada tiga guncangan besar atau dengan kekuatan melebihi magnitudo 5. Ketiga guncangan bersumber dari kedalaman 10-12 kilometer Laut Jawa, antara 30 dan 40 kilometer di barat Pulau Bawean.

Guncangan besar pertama dengan magnitudo 5,9. Setelah itu ada lima gempa susulan dengan kekuatan magnitudo di bawah 5. Gempa besar berikutnya pukul dengan magnitudo 5,3. Selanjutnya, ada 13 guncangan susulan. Gempa besar ketiga yang berdaya rusak tinggi dengan magnitudo 6,5.

BMKG mencatat sudah terjadi lebih dari 290 kali gempa susulan. Namun, sejak gempa besar ketiga, magnitudo guncangan menurun. Meski begiitu kalangan warga Pulau Bawean yang berpopulasi 105.000 jiwa tetap merasakannya dan menjadi trauma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *