Sedekah Bumi Cagak Agung Meriah, Warga Berebut Ancak hingga Nikmati Ludruk Semalam Suntuk

Pegeralran ludruk, peringati sedekah bumi Desa Cagakagung.
Pegeralran ludruk, peringati sedekah bumi Desa Cagakagung.

Gresik – Tradisi sedekah bumi di Desa Cagak Agung, Kecamatan Cerme, kembali menjadi pesta rakyat yang dinanti warga. Ribuan masyarakat memadati rangkaian kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Cagak Agung, mulai dari pengajian, kirab ancak berisi hasil bumi, pagelaran wayang kulit, hingga pentas Ludruk Gita Praja asal Jombang yang berlangsung semalam suntuk, Sabtu (4/7).

Antusiasme warga paling terlihat saat prosesi perebutan tiga ancak berisi aneka hasil bumi. Setelah diarak keliling desa dan didoakan bersama, ratusan warga langsung berebut buah-buahan dan hasil pertanian yang menghiasi ancak.

Bagi masyarakat setempat, hasil bumi yang diperoleh dari ancak dipercaya membawa berkah, keberuntungan, sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas rezeki dan hasil panen yang melimpah.

Kepala Desa Cagak Agung, Sapa’at, mengatakan sedekah bumi merupakan tradisi tahunan yang selalu mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

“Tahun ini kami memulai rangkaian kegiatan dengan pengajian pada Jumat malam, dilanjutkan kirab tiga ancak pada Sabtu siang. Setelah didoakan bersama, ancak diperebutkan warga sebagai simbol keberkahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelaksanaan sedekah bumi dilakukan secara bergiliran di setiap dusun. Tahun lalu kegiatan dipusatkan di Dusun Agung, sedangkan tahun ini berlangsung di Dusun Cagak.

“Memang setiap tahun digilir agar seluruh warga bisa ikut merasakan kemeriahan penyelenggaraannya,” jelasnya.

Tiga ancak tersebut dihiasi beragam hasil bumi, mulai pisang, nanas, jeruk, apel, hingga berbagai jenis sayuran seperti terong, mentimun, tomat, singkong, ubi, dan kentang.

Usai prosesi kirab, masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit pada siang hingga sore hari. Kemeriahan kemudian berlanjut pada malam harinya melalui pentas Ludruk Gita Praja dari Jombang yang menghibur masyarakat hingga Minggu pagi.

Menurut Sapa’at, selain menjadi hiburan rakyat, pementasan seni tradisional tersebut juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya Jawa agar tetap dikenal generasi muda.

“Ludruk dan wayang bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus terus dijaga. Alhamdulillah warga sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan,” katanya.

Suasana kekeluargaan begitu terasa sepanjang pelaksanaan sedekah bumi. Warga dari berbagai kalangan berkumpul memenuhi kawasan sekitar balai dusun sambil menikmati hiburan dan makan bersama.

Tak hanya mempererat kebersamaan, tradisi tahunan tersebut juga membawa berkah bagi pelaku usaha kecil. Lebih dari 100 stan UMKM memadati lokasi kegiatan dengan menjajakan beragam kuliner, minuman, hingga mainan anak.

“Sedekah bumi juga berdampak pada perekonomian masyarakat. Jalanan dipenuhi stan UMKM. Memang ada pedagang dari luar desa, tetapi sebagian besar merupakan warga Cagak Agung sendiri,” ungkap Sapa’at.

Ia berharap tradisi sedekah bumi tetap lestari sebagai wujud syukur kepada Tuhan sekaligus menjadi sarana memperkuat kebersamaan masyarakat serta menggerakkan roda perekonomian desa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *