Teater KWGe “Bangkit dari Kematian” Guncang Festival Tumpeng Nasi Krawu, Ribuan Penonton Terpukau

Pementasan Teater Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) bertajuk "Bangkit dari Kematian"
Pementasan Teater Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) bertajuk "Bangkit dari Kematian"

Gresik – Pementasan Teater Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) bertajuk “Bangkit dari Kematian” sukses menjadi salah satu penampilan paling berkesan dalam puncak Festival Tumpeng Nasi Krawu 2026 di kawasan Wisata Edukasi Gresik Universal Science (GUS), Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Minggu (28/6/2026).

Pertunjukan yang sarat pesan moral tersebut berhasil memukau ribuan penonton yang memadati lokasi festival, termasuk jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Gresik dan tamu undangan.

Tiga jurnalis yang menjadi pemeran utama, yakni Didik Telisik Hati sekaligus sutradara dari BN News, Dyo Cahyono dari Pojok Kiri, dan Moch. Sugeng dari Metro Pantura, berhasil menghadirkan penampilan teatrikal yang menyentuh emosi penonton.

Tepuk tangan panjang dan apresiasi mengiringi berakhirnya pementasan yang turut disaksikan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Wakil Bupati Asluchul Alif, Sekretaris Daerah Achmad Washil Miftahul Rachman, Kapolres Gresik, Dandim 0817/Gresik, kepala OPD, camat, kepala desa, hingga para tamu undangan lainnya.

Berbeda dari pertunjukan hiburan pada umumnya, teater “Bangkit dari Kematian” mengangkat refleksi tentang kehidupan, kematian, dan pentingnya memanfaatkan waktu untuk berbuat baik.

Melalui alur cerita yang sederhana namun menyentuh, penonton diajak merenungkan bahwa kehidupan memiliki batas. Harta, jabatan, maupun kemewahan dunia tidak akan ikut dibawa ketika ajal datang. Yang akan terus dikenang hanyalah amal kebaikan, kepedulian, dan manfaat yang pernah diberikan kepada sesama.

Ketua KWGe, Miftahul Arif, mengatakan pertunjukan tersebut sengaja dihadirkan sebagai suguhan berbeda pada puncak Festival Tumpeng Nasi Krawu.

“Kami ingin menghadirkan hiburan yang tidak hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga memberikan pesan moral yang membekas bagi masyarakat. Alhamdulillah, penampilan teman-teman mendapat sambutan yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Menurut Miftah, teater bukan sekadar memainkan peran di atas panggung. Dibutuhkan latihan, penghayatan emosi, disiplin, kerja sama tim, hingga keberanian tampil di hadapan ribuan penonton.

“Alhamdulillah, pementasan Teater KWGe menjadi salah satu penampilan yang paling berkesan dalam Festival Tumpeng Nasi Krawu tahun ini,” tambahnya.

Tak hanya sukses menghadirkan pertunjukan yang menghibur, Festival Tumpeng Nasi Krawu Vol. 4 juga menorehkan prestasi nasional dengan meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Sebanyak 3.000 bungkus nasi krawu disusun menyerupai gunungan atau tumpeng setinggi sekitar lima meter dan resmi ditetapkan sebagai rekor MURI.

Miftahul Arif menyebut keberhasilan tersebut merupakan buah dari kerja keras, kekompakan, dan dedikasi seluruh anggota KWGe.

“Alhamdulillah, Festival Tumpeng Nasi Krawu Vol. 4 berhasil mencetak rekor MURI. Ini adalah hasil kerja keras dan kebersamaan seluruh anggota KWGe untuk memberikan dedikasi dan kontribusi terbaik bagi masyarakat Kabupaten Gresik,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa proses penilaian MURI berlangsung sangat ketat karena seluruh persyaratan harus dipenuhi secara detail.

“Prosesnya sangat ketat dan membutuhkan kerja keras seluruh panitia. Alhamdulillah, seluruh persyaratan dapat kami penuhi sehingga Tumpeng Nasi Krawu berhasil mencetak rekor MURI,” pungkasnya.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Tumpeng Nasi Krawu Vol. 4 tidak hanya menjadi kebanggaan bagi insan pers di Kabupaten Gresik, tetapi juga memperkuat posisi nasi krawu sebagai identitas kuliner daerah yang mampu menarik perhatian publik sekaligus mengangkat potensi budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *