Gresik – Pengelolaan lingkungan kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan daya saing kawasan industri. Tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur dan investasi, kawasan industri dituntut mampu menghadirkan tata kelola lingkungan yang berbasis data, didukung monitoring berkelanjutan, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Komitmen tersebut ditegaskan PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS) selaku pengelola Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) dalam rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Kabupaten Gresik, akademisi, tenant kawasan, masyarakat pesisir, hingga pelaku industri.
Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif menegaskan, peringatan Hari Lingkungan Hidup tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
“Butuh kolaborasi bersama industri, masyarakat pesisir, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami mengapresiasi sinergi yang telah dibangun, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi nelayan serta rehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman mangrove,” ujarnya.
Guru Besar Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga, Prof. Eddy Setiadi Soedjono, menilai pengelolaan lingkungan tidak bisa hanya didasarkan pada satu kali pengamatan atau satu indikator saja. Menurutnya, perubahan kualitas lingkungan dipengaruhi banyak faktor sehingga membutuhkan pemantauan jangka panjang.
“Perubahan kualitas perairan, kondisi ekosistem pesisir maupun produktivitas sumber daya perikanan dipengaruhi banyak faktor yang saling berinteraksi. Karena itu diperlukan monitoring jangka panjang, data berkala, dan kajian multidisiplin sebelum menarik kesimpulan mengenai kondisi lingkungan suatu kawasan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis data menjadi fondasi penting agar setiap kebijakan lingkungan dapat disusun secara objektif, terukur, dan berkelanjutan.
Senada, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik Sri Subaidah mengapresiasi berbagai langkah rehabilitasi lingkungan yang dilakukan BKMS, salah satunya melalui penanaman ribuan mangrove di kawasan pesisir Kalimireng.
“Mangrove tidak hanya berfungsi mengurangi abrasi dan mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga menjadi investasi lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang,” katanya.
Sebagai implementasi komitmen tersebut, JIIPE secara rutin melakukan pemantauan kualitas lingkungan menggunakan hasil uji laboratorium terakreditasi yang mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Hasil monitoring tersebut menjadi dasar dalam evaluasi sekaligus pengambilan keputusan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini juga diisi dengan aksi nyata rehabilitasi lingkungan. BKMS bersama Pemkab Gresik, akademisi, tenant kawasan, dan masyarakat pesisir menanam 1.000 bibit mangrove, melepas 1.000 benih ikan, serta 100 benih kepiting di kawasan Kalimireng.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gresik Arief Witjaksono berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan produktivitas sumber daya perikanan sekaligus mendukung kesejahteraan nelayan.
“Harapannya hasil tangkapan dapat semakin tersedia di sekitar kawasan sehingga nelayan tidak perlu melaut lebih jauh. Upaya ini harus dijaga bersama agar manfaat ekologis maupun ekonominya dapat dirasakan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Tokoh masyarakat pesisir Kalimireng, Isharul, berharap sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat terus diperkuat agar pembangunan kawasan industri berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan.
Hal serupa disampaikan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Gresik, Hamzah Takim. Menurutnya, penanaman mangrove di sepanjang Sungai Kalimireng menjadi langkah strategis dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mempertahankan kawasan tangkap nelayan.
Selain rehabilitasi ekosistem, BKMS juga terus memperkuat infrastruktur lingkungan sebagai bagian dari penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Saat ini JIIPE telah mengoperasikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R). Seiring meningkatnya aktivitas kawasan industri, BKMS juga tengah menyiapkan pengembangan fasilitas tersebut menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) agar kapasitas pengelolaan sampah semakin optimal.
Direktur PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera, Bambang Soetiono, menegaskan bahwa tata kelola lingkungan kini menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan kawasan industri modern.
“Ke depan, daya saing kawasan industri tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur dan investasi, tetapi juga oleh kredibilitas tata kelola lingkungannya. Karena itu kami terus memperkuat monitoring berbasis data, mengembangkan infrastruktur lingkungan, serta membangun kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, tenant, dan masyarakat sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan yang berkelanjutan,” tegas Bambang.
Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, JIIPE menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pengelolaan lingkungan melalui monitoring berbasis data, pengembangan infrastruktur lingkungan, rehabilitasi ekosistem pesisir, serta kolaborasi multipihak demi mewujudkan kawasan industri yang kompetitif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.






