Gresik – Upaya meningkatkan kemandirian peternak melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dilakukan sekelompok mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya. Melalui program Pengabdian Masyarakat, mereka merancang sekaligus menerapkan inkubator penetas telur semi otomatis bagi peternak ayam petelur di Desa Sukorejo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Kegiatan bertajuk “Perancangan dan Penerapan Inkubator Penetas Telur Semi Otomatis bagi Peternak Ayam Petelur” tersebut dilaksanakan pada Rabu (8/7/2026) di peternakan ayam milik mitra yang berlokasi di Jalan Delima RT 02 RW 01, Desa Sukorejo.
Program ini menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan teknologi yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Selain membantu meningkatkan produktivitas peternak, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mahasiswa mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah secara langsung.
Program yang mengusung penerapan teknologi tepat guna ini dilaksanakan oleh empat mahasiswa lintas program studi UNTAG Surabaya, yaitu Muhammad Zakky Al-Yudi (NBI 1422300134) dari Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik; Amanda Clarisa Amelia Hariawan (NBI 1152300110) dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik; Vidinia Nuansa Citra (NBI 1222300120) dari Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; serta Rachmat Prihanto (NBI 1462300078) dari Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik.
Seluruh kegiatan mendapat pendampingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mulai dari tahap identifikasi kebutuhan mitra, perancangan alat, sosialisasi, pelatihan penggunaan, hingga evaluasi bersama peternak.
Berangkat dari Permasalahan Nyata Peternak
Program pengabdian ini lahir dari hasil observasi dan diskusi dengan peternak ayam di Desa Sukorejo. Selama hampir sepuluh tahun menjalankan usaha ayam petelur, mitra hanya berfokus memproduksi telur konsumsi dan belum pernah melakukan penetasan telur secara mandiri.
Akibatnya, kebutuhan bibit ayam masih sepenuhnya bergantung pada pembelian dari luar daerah. Di sisi lain, peternak menghadapi tantangan meningkatnya harga pakan, sementara harga jual telur di pasaran cenderung mengalami penurunan.
Padahal, peternak telah memiliki ayam jantan yang memungkinkan proses pembibitan dilakukan secara mandiri apabila tersedia teknologi penetasan yang memadai.
Melihat kondisi tersebut, tim mahasiswa menghadirkan solusi berupa inkubator penetas telur semi otomatis yang diharapkan mampu membantu peternak menghasilkan bibit ayam sendiri, mengurangi biaya produksi, sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.
Dirancang Sederhana, Efisien, dan Mudah Dioperasikan
Inkubator hasil rancangan mahasiswa dibuat menggunakan rangka kayu dengan dinding triplek, sementara bagian depan menggunakan akrilik transparan sehingga kondisi telur dapat dipantau tanpa harus membuka pintu inkubator.
Peralatan tersebut dilengkapi rak telur, lampu pemanas, ventilasi udara, serta thermostat digital yang berfungsi menjaga suhu inkubasi tetap stabil pada kisaran 37–39 derajat Celsius, yaitu suhu ideal untuk proses penetasan telur ayam.
Dengan sistem tersebut, proses inkubasi berlangsung lebih terkontrol dibandingkan metode pengeraman alami, sehingga peluang keberhasilan penetasan diharapkan lebih tinggi.
Selain menyerahkan alat kepada mitra, mahasiswa juga memberikan pelatihan mengenai cara pengoperasian, perawatan, serta langkah-langkah mengatasi gangguan yang mungkin terjadi selama proses penetasan berlangsung.
Mahasiswa Belajar Menyelesaikan Persoalan Nyata
Dosen Pembimbing Lapangan, Rizki Dwi Bakhtiar Surin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan kegiatan pengabdian masyarakat bukan sekadar menghasilkan sebuah produk teknologi, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya dituntut menguasai aspek teknis pembuatan alat, tetapi juga belajar berkomunikasi dan berkolaborasi dengan masyarakat secara langsung. Saya berharap teknologi yang diterapkan ini benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi mitra, bukan sekadar program seremonial,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan sebuah teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan alat, tetapi juga sejauh mana alat tersebut sesuai dengan kebutuhan pengguna dan mampu dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Mahasiswa: Solusi Harus Berangkat dari Kebutuhan Masyarakat
Perwakilan mahasiswa, Vidinia Nuansa Citra, mengaku proses penyusunan program memberikan pengalaman baru bagi seluruh anggota tim.
Awalnya mereka sempat khawatir alat yang dirancang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Namun setelah melakukan diskusi intensif dengan peternak dan mendapat arahan dari dosen pembimbing, rancangan alat terus disempurnakan hingga sesuai kebutuhan mitra.
“Tapi setelah berdiskusi langsung dengan peternak dan mendapat arahan dari DPL, kami jadi lebih memahami bahwa solusi yang baik itu harus benar-benar dekat dengan kondisi nyata masyarakat, bukan hanya teori di kampus. Semoga alat ini bisa terus dipakai dan bermanfaat untuk peternakan di Desa Sukorejo,” ungkapnya.
Peternak Berharap Bisa Produksi Bibit Sendiri
Pemilik peternakan, Budi, menyambut baik bantuan teknologi yang diberikan mahasiswa.
Ia menceritakan bahwa selama sekitar sepuluh tahun menjalankan usaha ayam petelur, dirinya hanya menjual telur konsumsi dan belum pernah mencoba menetaskan telur sendiri.
“Usaha ternak ayam petelur ini sudah saya jalani sekitar sepuluh tahun, tapi selama ini saya fokus jual telur saja, belum pernah melakukan penetasan sendiri. Bibit ayamnya pun masih saya beli,” tuturnya.
Saat ini, setiap ekor ayam menghasilkan satu butir telur per hari dengan pemberian pakan sekitar satu ons per ekor sebanyak dua kali sehari. Sistem minum ternak juga telah menggunakan alat otomatis.
Menurut Budi, tantangan terbesar yang dihadapi peternak saat ini adalah biaya pakan yang terus meningkat, sementara harga telur justru mengalami penurunan.
Selain memelihara ayam, ia juga mengembangkan usaha ternak itik yang sebagian dijual sebagai anakan dan sebagian lagi dipelihara untuk memperbesar populasi ternak.
“Dengan adanya alat penetas dari adik-adik mahasiswa ini, saya berharap ke depan saya bisa mulai menetaskan telur sendiri dan usaha ternak saya bisa terus bertahan,” katanya.
Pemerintah Desa Nilai Berpotensi Tingkatkan Nilai Ekonomi
Sekretaris Desa Sukorejo, Tresnani Galuh Larasati, S.Psi., memberikan apresiasi terhadap inovasi yang dihadirkan mahasiswa UNTAG Surabaya.
Menurutnya, teknologi penetas telur memiliki prospek ekonomi yang cukup baik karena dapat membuka peluang usaha baru melalui penjualan bibit ayam, terutama ketika harga telur sedang mengalami penurunan.
“Menurut saya, hasil program ini cukup baik karena teknologi penetas telur yang diberikan memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Apalagi di tengah harga telur yang sedang turun, fokus pada penjualan bibit ayam bisa menjadi alternatif usaha dengan nilai jual yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ia juga menilai sistem semi otomatis yang diterapkan mampu meningkatkan efisiensi kerja peternak karena mengurangi risiko kesalahan dalam proses pembalikan telur selama masa inkubasi.
Meski keberhasilan penetasan baru dapat diketahui sekitar 21 hari setelah proses inkubasi dimulai, Tresnani optimistis program tersebut memiliki peluang besar untuk berhasil, terlebih telah disertai pelatihan penggunaan alat serta pendampingan kepada mitra.
“Semoga hasil penetasannya sesuai harapan dan bisa menjadi usaha yang berkelanjutan,” harapnya.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, tim mahasiswa UNTAG Surabaya berharap inkubator penetas telur semi otomatis dapat menjadi awal kemandirian peternak dalam memproduksi bibit ayam sendiri, sekaligus membantu meningkatkan efisiensi usaha di tengah fluktuasi harga telur dan kenaikan biaya produksi.
Program tersebut juga menjadi bukti bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata melalui penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, aplikatif, dan berkelanjutan demi mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.






