Gresik – Suasana Desa Sedagaran, Kecamatan Sidayu, benar-benar bergemuruh, Sabtu (11/10/2025) malam. Sorak penonton, gesekan sandal di tanah lapangan, hingga deru kendaraan yang memadati area sekitarnya menciptakan atmosfer semarak tak biasa.
Ratusan warga dari berbagai daerah datang menyaksikan turnamen tarik tambang “Pelariant Cup 2”, ajang olahraga tradisional yang berhasil menyedot perhatian hingga lintas kabupaten, dari Gresik sampai Lamongan. Lebih dari 64 tim tangguh beradu kekuatan dan strategi di bawah sorotan lampu, dengan semangat persatuan yang kental terasa.
Bagi panitia penyelenggara Komunitas Pelariant dan Karang Taruna Desa Sedagaran kegiatan ini bukan sekadar lomba rakyat. Turnamen tersebut merupakan wujud nyata visi untuk mengangkat martabat desa melalui olahraga tradisional.
Kepala Desa Sedagaran, Munif Effendi, S.E., menjelaskan bahwa event semacam ini memiliki dampak lebih luas dari sekadar hiburan.
“Lomba olahraga tradisional tarik tambang ini dapat menjadi kegiatan berprestasi antar warga Desa. Sekaligus meningkatkan tali silaturahmi dan kunjungan masyarakat luar Desa ke Desa Sedagaran,” ujarnya. “Kami melihat potensi ganda di sini: sarana prestasi atlet daerah dan promosi pariwisata lokal yang efektif.”
Tak hanya masyarakat, para pemangku kebijakan pun turut memberikan dukungan. Ketua DPRD Gresik M. Syahrul Munir, bersama anggota DPRD dari Fraksi Demokrat H Suberi, dan Fraksi PKB, Imron Rosyadi, hadir langsung menyemangati peserta.
Kehadiran mereka menjadi bentuk pengakuan terhadap upaya pelestarian budaya olahraga tradisional. Tarik tambang, yang kerap dianggap permainan musiman 17 Agustus, kini menunjukkan peran strategis dalam membangun karakter pemuda dan identitas budaya desa.
Edisi kedua Pelariant Cup ini digelar dengan sistem gugur yang ketat, menghadirkan pertandingan seru dan penuh kejutan. Lebih dari sekadar adu otot, turnamen ini menjadi sarana mempererat tali persaudaraan antar pemuda dari berbagai wilayah.
Dengan konsistensi penyelenggaraan dari tahun ke tahun, Desa Sedagaran perlahan membangun brand sebagai desa olahraga tradisional, tempat di mana tali tambang bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga ikatan persaudaraan dan kebanggaan bersama.






