Gresik – Pembangunan pabrik melamin senilai sekitar US$600 juta di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) dinilai akan memperkuat struktur industri kimia nasional sekaligus mendorong pengembangan industri rendah emisi di Indonesia.
Proyek yang dikembangkan oleh Golden Elephant ini disebut sebagai salah satu fasilitas melamin terbesar di dunia dan dirancang secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan gas alam menjadi amonia, urea, hingga melamin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari strategi nasional dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
“Pengembangan industri melamin di Gresik merupakan langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi nasional. Kami mengapresiasi peran KEK Gresik dalam menyediakan ekosistem industri terintegrasi yang mampu menarik investasi berskala besar dan berkualitas tinggi,” ujar Airlangga.
Pengembangan proyek ini dinilai sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat basis industri berbasis sumber daya alam, sekaligus mendukung transisi menuju industri yang lebih efisien, berkelanjutan, dan berorientasi pada pengurangan emisi.
Chairman Golden Elephant, Lei Lin, menjelaskan bahwa proyek ini mengusung pendekatan industri kimia berbasis ekonomi sirkular dengan dukungan teknologi proses generasi terbaru.
“Kami melihat JIIPE sebagai kawasan strategis untuk menghadirkan rantai industri kimia terintegrasi berbasis ekonomi sirkular di Indonesia. Proyek ini tidak hanya memperkuat pasokan industri dalam negeri, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan kerja sama industri lintas negara,” jelas Lei Lin.
Ia menambahkan, penerapan teknologi tersebut memungkinkan efisiensi energi hingga 30 persen lebih rendah dibandingkan standar industri global, serta mendorong optimalisasi pemanfaatan produk samping melalui proses daur ulang. Pendekatan ini disebut menjadi bagian penting dalam mendukung pengembangan industri kimia rendah karbon di Indonesia.
Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BKMS)-JIIPE, Bambang Soetiono, menegaskan bahwa keunggulan JIIPE terletak pada integrasi kawasan yang mampu mendukung efisiensi operasional dan keberlanjutan industri.
“JIIPE dirancang untuk mendukung rantai nilai industri secara end-to-end, mulai dari ketersediaan bahan baku, infrastruktur, hingga konektivitas logistik. Hal ini memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi sekaligus memperkuat daya saing industri secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, menilai proyek tersebut akan memperkuat ketahanan industri kimia nasional sekaligus menjadi tonggak penting dalam kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Tiongkok.
“Pengembangan rantai industri melamin di JIIPE akan memperkuat pasokan produk kimia strategis, mendukung industrialisasi Indonesia, serta memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional,” ujar Wang Lutong.
Dengan dukungan infrastruktur terintegrasi, termasuk pelabuhan laut dalam, serta status sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), JIIPE dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong pengembangan industri berbasis efisiensi energi, nilai tambah, dan keberlanjutan.
Proyek ini juga diproyeksikan mampu menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja, sekaligus mendorong penguatan ekosistem industri hulu dan hilir, termasuk sektor pertanian, manufaktur, dan logistik.
Di tempat yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menegaskan bahwa pembangunan pabrik PT GEABH Joint Technology di kawasan KEK JIIPE, Kabupaten Gresik, merupakan langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi industri kimia sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Jawa Timur.
Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik, Ahmad Washil, yang menyebut industri ini akan membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Sedikitnya 1.000 tenaga kerja diperkirakan akan terserap ketika pabrik mulai beroperasi.






